Nusawarta.id, Jakarta — Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya yang sempat menganjurkan pelaku UMKM untuk memproduksi barang KW, seperti menyebut contoh merek “Doir” yang menyerupai “Dior”.
“Saya mohon maaf dan sekali lagi, saya sebagai menteri harus fair untuk mengatakan bahwa itu adalah kesalahan dalam penyampaian dan penggunaan analogi,” ujar Maman saat ditemui di Kementerian UMKM, Jakarta, Rabu (22/10).
Ia menjelaskan, maksud dari pernyataannya bukan mendorong pelanggaran hak kekayaan intelektual (HAKI), melainkan mendorong pelaku UMKM agar belajar dari praktik negara-negara industri seperti China dan Korea Selatan. Kedua negara tersebut, kata Maman, sempat menjalankan strategi amati, tiru, modifikasi (ATM) sebagai bagian dari proses awal industrialisasi.
Baca Juga : Fadli Zon: Pesantren Bentuk Wajah Kebudayaan Indonesia
“Misalnya Korea Selatan meniru produk kipas angin dari luar negeri, tapi sekarang mereka punya LG. Itu bukan tiru plek-plekan, tapi dimodifikasi dan dikembangkan,” jelasnya.
Maman menegaskan, UMKM Indonesia perlu menciptakan produk yang menarik dari sisi kemasan hingga kualitas. Transformasi dari produk yang terinspirasi itulah yang menurutnya bisa menghasilkan produk unggulan dalam negeri.
“Korea Selatan berhasil membuat produk imitasi, lalu melakukan transformasi lewat riset dan pengembangan. Sekarang mereka punya produk berkualitas dunia, begitu pula China,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa aspek HAKI tidak bisa diabaikan. “Saya mohon maaf kalau jadi tafsir publik, seakan-akan saya mendukung produksi barang KW. Itu 100 persen tidak,” tegasnya.
Pernyataan awal Maman yang menuai kontroversi disampaikan usai menghadiri acara “1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran”, Kamis (16/10), di mana ia menyarankan UMKM meniru strategi produsen China dalam menghadapi persaingan pasar. (Ki/Red)












