Nusawarta.id, Muna – Masyarakat di Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat menilai pihak Pertamina Muna harus bertanggungjawab atas kerusakan berbagai jenis kendaraan yang dialami sebab penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diduga oplosan.
Menurut Hasil Survei Keluhan Penggunaan BBM pada Kendaraan Bermotor di Wilayah Muna dan Muna Barat yang dilaksanakan sejak 26 Maret sampai dengan 5 April 2025 oleh Tim Nusawarta, akumulasi responden yang lebih dari 80 persen menilai Pertamina Muna dalam hal ini manajemen Pertamina dan Pengelola SPBU harus bertanggungjawab atas kerusakan kendaraan.
Dari akumulasi tersebut, 59,3 persen diantaranya menilai yang harus bertanggungjawab ialah Manajemen Pertamina wilayah Muna dan 24,1 persen Pengelola SPBU. Sedangkan 7,4 persen responden menilai sebagai tanggung jawab diri sendiri. Sementara 5,6 persen lainnya menilai sebagai tanggung jawab pihak berwajib atau Kepolisian.
Baca Juga Menteri ESDM Pastikan Distribusi BBM, LPG, dan Listrik di Kalsel Aman Jelang Lebaran
Bukan tanpa sebab, pasalnya menurut hasil survei, maraknya peredaran BBM oplosan terutama jenis Pertalite yang dibeli masyarakat diyakini oleh 94,3 persen responden sebagai faktor utama kerusakan.
Terlebih lagi, 88,9 persen yang didominasi pengguna motor mengaku menggunakan BBM jenis Pertalite sebelum akhirnya mengeluhkan kerusakan kendaraannya.
Dari kejadian itu banyak masyarakat yang merasa sangat terganggu dan merugi karena kendaraannya mogok akibat berbagai macam komponen mesin rusak yang akhirnya memaksa mereka merogoh saku hingga ratusan ribu untuk memperbaiki kerusakan.
Baca Juga Polda Sultra dan ESDM Pastikan Kualitas BBM di Depot Kendari Terjaga
Efeknya setelah melakukan perbaikan, keluhan masyarakat berangsur berkurang. Namun bukan karena kualitas BBM jenis Pertalite yang membaik, melainkan keputusan pengguna kendaraan yang salah satunya memilih beralih ke BBM Pertamax karena menganggap bahan bakar jenis ini tidak dimanipulasi kualitasnya.
Salah seorang pengecer BBM, sebut saja Wa Ina (nama disamarkan) saat ditemui dalam satu kesempatan mengaku BBM jenis Pertamax lebih laris dibandingkan jenis Pertalite.
“Pertamax lebih cepat habis. Kalau yang Pertalite ini orang tidak mau beli karena masih takut,” kata Wa Ina, Ahad (30/3/2025).
Selain itu, dirinya yang sudah bertahun-tahun menjadi pengecer BBM menyebutkan jika jenis Pertalite aromanya memang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
“Dia lain memang aromanya ini bensin (Pertalite),” pungkasnya.
Meski jenis Pertamax lebih mahal dibanding Pertalite dengan sedikit selisih, Wa Ina menyebutkan para pengendara motor lebih memilih kendaraannya berjalan mulus tanpa ada masalah di perjalanan.
Pernyataan serupa juga diungkapkan Arifin, pengguna kendaraan yang sebelumnya rutin menggunakan BBM jenis Pertalite untuk motornya.
Baca juga: Hasil Survei Keluhan Penggunaan BBM di Muna dan Muna Barat
Beruntungnya, sebelum menjadi korban BBM oplosan, keluhuan banyak orang membuatnya sadar lebih cepat dan segera beralih ke jenis Pertamax sehingga tidak harus mengantri di bengkel untuk memperbaiki kendaraannya.
“Waktu orang mulai ribut motornya mogok karena Pertalite, saya langsung ganti ke Pertamax. Lebih baik rugi seribu dua ribu (rupiah) daripada rugi ratusan ribu karena masuk bengkel,” ujar Arifin, Sabtu (5/4/2025).
Walaupun beberapa pekan sebelumnya pihak Pertamina Muna yaitu Fuel Terminal Raha bersama Polres Muna dan Disperindag Muna telah melakukan uji kualitas dan pengiriman sampel BBM dari beberapa pangkalan SPBU dan dealer motor di Kota Raha ke Lemigas Makassar yang berada di bawah naungan Ditjen Migas Kementerian ESDM, namun hingga saat ini belum ada informasi jelas dari pihak terkait mengenai hasil uji laboratorium tersebut. (*Red)












