Hasil Survei Keluhan Penggunaan BBM di Muna dan Muna Barat

  • Bagikan
BBM Oplosan
Ilustrasi pengisian BBM

Nusawarta.id, Muna – Beberapa waktu lalu, masyarakat di banyak wilayah di Indonesia mengeluhkan kendaraannya mengalami kerusakan yang diduga akibat penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) oplosan.

Kendati beberapa petinggi PT Pertamina sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi berkaitan dengan manipulasi kadar BBM pada Selasa (24/2/2025), keluhan masyarakat di berbagai platform media sosial akibat penggunaan salah satu jenis BBM Pertamina belum juga ada hentinya terutama di Pulau Muna dengan dua wilayah administratif di dalamnya.

Dalam rangka memastikan penyaluran BBM di masyarakat melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maupun pengecer atau pedagang mengalami perbaikan hingga pemulihan kualitas, Tim Nusawarta kemudian melakukan Survei Keluhan Penggunaan BBM pada Kendaraan Bermotor di Wilayah Muna dan Muna Barat sejak tanggal 26 Maret 2025 yang dilakukan dalam jaringan (daring) melalui berbagai platform media sosial terutama Facebook dan WhatsApp.

Dari hasil survei menunjukan bahwa 88,9 persen masyarakat Muna dan Muna Barat sebelum kendaraan mengalami kerusakan, paling rutin menggunakan BBM jenis Pertalite, hanya 5,5 persen menggunakan BBM Pertamax, sedangkan 5,6 persen lainnya tidak menentu. Dengan frekuensi pembelian tertinggi adalah 2-3 kali dalam kurun waktu seminggu, dimana 50,8 persen masyarakat membeli BBM di pangkalan SPBU, 30,9 persen membeli di pedagang atau pengecer, sementara 18,2 persen lainnya tidak menentu.

Terkait keluhan kendaraan masyarakat yang diperbaiki di bengkel, 90,9 persen mengaku pernah mengalami hal tersebut, dimana 61,8 persen diantarnya menyatakan pernah sekali masuk bengkel dan 29,1 persen sering masuk bengkel. Dalam kasus keduanya, 60 persen responden mengeluhkan motor mogok dengan sebagian komponen mesin rusak dan 40 persen lainnya motor mogok dengan satu komponen mesin rusak. Kerusakannya pun cukup bervariasi dan kebanyakan berupa kerusakan injektor, filter fuelpump, busi, karburator, dan rotak.

Baca Juga  KKP dan Muhammadiyah Bersinergi Sukseskan Program Ekonomi Biru

Sebagai korban, responden yang notabenenya adalah masyarakat, mengaku mengingat dan mengetahui bahwa sebab utama masalah kendaraan saat sebelumnya maupun sekarang, 98,1 persen menyebutkan diakibatkan penggunaan BBM Pertalite oplosan. Hanya 5,6 persen yang menyebut akibat BBM Pertamax oplosan. Dari data tersebut, 94,3 persen diantaranya sangat yakin bahwa BBM oplosan menjadi faktor utama kerusakan kendaraan. Hal ini diperkuat dengan bukti yang dimiliki oleh 74,5 persen responden.

Baca juga: Polda Sultra dan ESDM Pastikan Kualitas BBM di Depot Kendari Terjaga

Selain itu, akibat kerusakan yang dialami masyarakat, 70,4 persen memilih memperbaiki kendaraannya di bengkel. 13 persen beralih jenis BBM dan 11 persen memperbaiki secara mandiri. Bahkan dalam jawaban lainnya, responden menyatakan memperbaiki kendaraannya di bengkel sekaligus mengganti jenis BBM.

Efek dari masalah kerusakan kendaraan, sebanyak 94,4 persen responden merasa sangat terganggu. Apalagi kerugian yang dialami pun cukup beragam mulai dari kerugian ekonomi atau pekerjaan (83,3 persen), kerugian waktu (50 persen), kerugian relasi (11,1 persen), bahkan ada juga yang menyatakan tidak nyaman saat berkendara (1,9 persen). Meski tidak signifikan, namun kerugian ekonomi masyarakat berkisar antara Rp50.000 hingga Rp199.000 untuk memperbaiki kerusakan kendaraannya.

Sebagian besar responden pun menilai pihak Pertamina harus bertanggungjawab atas berbagai macam kerusakan kendaraan akibat BBM oplosan ini. Dimana 59,3 persen menyalahkan Manajemen Pertamina wilayah Muna dan 24,1 persen menyalahkan pengelola SPBU. Namun ada juga yang menyalahkan diri sendiri sebanyak 7,4 persen. Hanya 5,6 persen yang menyalahkan pihak berwajib atau Kepolisian. (*Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *