Lestari: Membela Perempuan Adalah Agenda Peradaban Bangsa

  • Bagikan
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (kiri) menjadi pembicara dalam diskusi publik Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan: Perspektif Kebijakan, Seni, dan Gerakan Sosial di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu (9/5/2026). (Foto: MPR RI/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa membela perempuan untuk memperoleh keadilan dan kesetaraan di berbagai lini kehidupan merupakan sebuah keharusan demi kemajuan peradaban bangsa.

Hal tersebut disampaikan Lestari saat menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk “Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan: Perspektif Kebijakan, Seni, dan Gerakan Sosial” di Galeri Nasional Indonesia, Sabtu.

Menurut dia, Indonesia tidak kekurangan perempuan hebat. Namun, ruang, perlindungan, dan perhatian terhadap perempuan masih perlu dimaksimalkan agar perempuan dapat berkembang secara optimal.

“Membela perempuan adalah sebuah keharusan. Bicara tentang perempuan, memposisikan perempuan, sebetulnya kita sedang bicara agenda peradaban bangsa,” kata Lestari dalam keterangannya.

Baca Juga : Gibran Bagikan Sepeda untuk Santri di Haul KH Wahab Chasbullah, Sebut Generasi Pesantren Calon Pemimpin Bangsa

Ia menilai perempuan Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan struktural dan kultural yang membutuhkan keberanian besar untuk mengatasinya.

Lestari memaparkan, tingkat partisipasi kerja perempuan saat ini baru sekitar 55 persen dari total populasi perempuan Indonesia. Angka tersebut masih jauh di bawah tingkat partisipasi kerja laki-laki yang mencapai 84 persen.

Selain itu, sekitar 61 persen perempuan bekerja di sektor yang belum mendapatkan perlindungan dan jaminan sosial memadai. Ia juga menyoroti masih adanya kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki meski berada pada posisi pekerjaan yang sama.

“Perempuan itu berhadapan dengan tembok kaca, dia harus memiliki keberanian luar biasa untuk mampu mendobraknya,” ujarnya.

Dari sisi politik, anggota Komisi X DPR RI itu menyebut keterwakilan perempuan di parlemen secara umum baru mencapai sekitar 22 persen dan masih menghadapi sejumlah tantangan untuk meningkatkannya.

Menurut dia, kendala yang dihadapi bukan terletak pada kapasitas perempuan, melainkan pada struktur sosial yang belum adil serta kuatnya budaya patriarki di masyarakat.

Baca Juga  Perempuan Tangguh Warnai Upacara Kartini di Tanah Bumbu

“Stereotipe bahwa perempuan tidak mampu mengambil keputusan penting masih mengakar. Padahal, ketika perempuan diberikan kesempatan, banyak bukti bahwa perempuan mampu berada di depan,” kata Lestari.

Baca Juga : PKS Dorong Pendidikan Bermutu untuk Wujudkan Generasi Emas Berkarakter

Ia menambahkan, peningkatan pendidikan di berbagai aspek menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong perubahan dan memperkuat posisi perempuan di masyarakat.

Lestari juga mengingatkan pentingnya keberanian perempuan untuk tidak selalu dituntut sempurna dalam menjalankan berbagai peran.

“Saya sering ditanya kunci perempuan bisa maju. Saya bilang perempuan itu harus mau menjadi tidak sempurna. Kita dituntut serba bisa, tapi kita harus berani melepas itu,” ujarnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *