Nusawarta.id, Jakarta – Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan usaha di kawasan transmigrasi agar berorientasi pada kebutuhan pasar dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, pengembangan usaha tidak cukup hanya berfokus pada produksi, tetapi juga harus memperhatikan kepastian pembeli dan potensi keuntungan bagi warga.
“Jangan hanya melihat apa yang bisa dibuat, tetapi juga siapa yang akan membeli dan bagaimana produk tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Salah satu upaya membuka akses pasar dilakukan petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 IPB University menjajaki kerja sama pasokan sayuran dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulau Besar.
Penjajakan tersebut diharapkan membuka peluang pasar yang lebih pasti bagi hasil pertanian warga, sekaligus memperluas pemasaran produk hortikultura.
Baca Juga : Yusril Minta Wacana Redefinisi Korupsi Dikaji Hati-hati
Upaya itu dilakukan melalui kegiatan Farmer Field and Business School (FFBS) pertemuan ketujuh yang dirangkai dengan panen di Demplot Trans-Organik, Desa Sumber Jaya Permai.
Bersama 18 petani penggerak, tim memanen sebanyak 107 kilogram sayuran yang terdiri atas pakcoy, selada, bayam, dan kangkung.
Ketua TEP IPB University Suprehatin mengatakan, petani perlu memahami kebutuhan pasar, mulai dari jenis sayuran, standar kualitas, jumlah pasokan hingga jadwal pengiriman.
Karena itu, pendampingan tidak hanya berfokus pada teknik budidaya, tetapi juga mencakup proses penyortiran, pemilahan berdasarkan kualitas, serta pengemasan hasil panen agar sesuai dengan kebutuhan pembeli.
“Transisi pertanian tidak cukup berhenti pada bagaimana petani menghasilkan produk yang lebih baik. Kita juga perlu memastikan produk tersebut memiliki akses pasar,” ujar Suprehatin.
Baca Juga : Komisi X DPR Dukung 1.000 Beasiswa Dokter Spesialis, Daerah 3T Jadi Prioritas
Selama ini, keterbatasan akses pasar dan harga yang tidak menentu menjadi tantangan bagi petani. Melalui pendampingan tersebut, petani didorong menyiapkan hasil panen dengan mutu dan standar yang dibutuhkan pasar.
Petani penggerak Desa Sumber Jaya Permai, Ayik Sofyan, menyambut positif peluang kerja sama tersebut. Komunikasi dengan SPPG dan pedagang lokal dinilai membuka harapan baru bagi pengembangan usaha pertanian warga.
“Adanya komunikasi dengan SPPG dan pedagang lokal memberikan harapan bagi pengembangan usaha hortikultura kami,” kata Ayik.
Melalui program Trans-Organik, TEP IPB University berharap petani Batu Betumpang mampu memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan kualitas produk, serta membangun usaha pertanian yang berkelanjutan dan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.












