Nusawarta.id, Medan – Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri terus mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk menciptakan inovasi yang bersumber dari kebutuhan nyata masyarakat di daerah. Kepala BSKDN, Yusharto Huntoyungo, menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Peningkatan Capaian Indeks Inovasi Daerah (IID) se-Sumatera Utara yang berlangsung di Kantor Bappelitbang Sumut, Kamis (17/7/2025).
Yusharto menyoroti pentingnya pendekatan inovasi yang kontekstual dan membumi, dengan belajar dari keberhasilan daerah lain seperti Pemerintah Kabupaten Blora melalui Gerakan Sejuta Kotak Umat. Program ini memanfaatkan limbah peternakan menjadi pupuk organik secara komunal sebagai solusi atas kelangkaan dan mahalnya harga pupuk kimia.
“Inovasi seperti ini lahir dari masalah lokal, namun mampu memberikan dampak besar. Pada tahun kedua, mereka sudah bisa memenuhi 30 persen kebutuhan pupuk yang sebelumnya bergantung pada subsidi. Ini bukan hanya soal efisiensi anggaran, tapi juga soal pemberdayaan masyarakat,” ujar Yusharto.
Baca Juga Dirjen Polpum Kemendagri Tanggapi Putusan MK Soal Pemisahan Pemilu Nasional dan Lokal Mulai 2029
Ia menegaskan bahwa inovasi tidak harus identik dengan teknologi tinggi atau aplikasi digital. Yang terpenting adalah solusi nyata yang lahir dari akar persoalan dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, setiap perangkat daerah memiliki potensi untuk memulai inovasi berbasis permasalahan sektoral.
“Inovasi harus dimulai dari hal yang paling dekat dengan masyarakat. Dinas pertanian, perhubungan, pendidikan—semuanya punya ruang besar untuk berinovasi bila mampu melihat tantangan sebagai peluang,” jelasnya.
Tak hanya pada sektor pertanian, Yusharto juga menyoroti pentingnya inovasi di sektor kesehatan. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah rumah sakit dan puskesmas di daerah telah menghasilkan berbagai produk inovatif dari tenaga medis, bahkan hingga mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Ini menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan inovasi sangat terbuka lebar di semua lini pelayanan publik.
“Ada perawat dan dokter di beberapa daerah yang menghasilkan sampai 14 produk inovatif dengan HAKI. Itu luar biasa dan harus menjadi semangat bersama untuk mempercepat pertumbuhan inovasi,” tambahnya.
Hasil pengukuran indeks inovasi Sumut tahun 2024 menunjukkan peningkatan kinerja, namun Yusharto menilai bahwa aspek kualitas dan kebermanfaatan inovasi masih perlu diperkuat. Ia mendorong seluruh pemangku kepentingan di Sumut agar tak hanya mengejar angka, tapi juga fokus pada implementasi inovasi yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dengan pendekatan yang adaptif dan berbasis pada kondisi lokal, BSKDN meyakini Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat inovasi daerah yang mampu menjadi contoh nasional dalam pelayanan publik yang kreatif dan solutif. (Ki/Red).












