Nusawarta.id, Hulu Sungai Tengah — Warga Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, menilai embung sebagai kolam regulasi pengendali banjir belum berfungsi secara maksimal. Keberadaannya justru berdampak negatif pada sektor pertanian di wilayah tersebut.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) RT01 dan RT02 Desa Paya Besar, Kecamatan Batu Benawa, Thalbi, menyatakan bahwa pembangunan kolam regulasi menyebabkan aliran air terhambat, sehingga masyarakat mengalami kesulitan bercocok tanam.
“Dampaknya cukup parah. Warga masyarakat sekitar tidak bisa lagi bertani secara normal seperti sebelumnya. Air yang terbendung menyebabkan sawah tergenang dan membuat benih padi membusuk,” ungkap Thalbi pada senin (14/04/2025).
Ketua Poktan tersebut menambahkan, puluhan hektare sawah terdampak akibat air yang tidak mengalir dengan baik, sehingga petani tidak bisa menanam benih secara normal. Hal ini berdampak pada berkurangnya pendapatan masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian.
Sementara itu, seorang tokoh masyarakat Kecamatan Batu Benawa, Muhran (64), menilai proyek yang dijalankan oleh pemerintah pusat kurang melalui kajian yang matang. Tujuan pemerintah baik, tetapi akibat kurangnya kajian yang mendalam, justru muncul dampak yang seharusnya bisa dihindari,” ucapnya.
Menanggapi permasalahan ini, Wakil Bupati HST, H. Rosyadi Elmi, menyampaikan bahwa pemerintah daerah berupaya merancang program pembangunan pertanian secara komprehensif dan terpadu. Program pembangunan pertanian di Bumi Murakata HST akan disusun dari hulu hingga hilir. Insya Allah, akan mulai berjalan pada APBD mendatang, karena saat ini kami masih melanjutkan program Bupati terdahulu.
Rosyadi Elmi (Mantan anggota Komisi II DPRD Kalsel) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu berharap pertanian di HST tetap berkembang. Sejak tahun 1960-an, HST telah memasok kebutuhan beras bagi warga Kalimantan Timur, yang kini menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Maka, sektor pertanian harus tetap diperhatikan dan ditingkatkan,” tambahnya.
Sebagai sentra pertanian di wilayah Banua Anam Kalimantan Selatan, Kabupaten HST berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan. Wilayah ini mencakup Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan, dan Tabalong. HST juga menjadi pemasok utama beras bagi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Barito Utara dan Kabupaten Barito Selatan.
Sejarah panjang pertanian di HST membuktikan daerah ini memiliki sistem irigasi yang maju. Pada tahun 1981, HST menjadi tuan rumah Pekan Nasional (Penas) Tani, dengan Desa Aluan Besar, Kecamatan Batu Benawa, sebagai lokasi studi banding para petani. Saat itu, desa ini telah menerapkan sistem irigasi teknis dengan varietas unggul, memungkinkan panen dua kali dalam setahun.
Dengan kondisi saat ini, warga berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat mengambil langkah konkret guna mengatasi dampak negatif dari proyek embung, sehingga sektor pertanian di HST tetap berkembang dan berdaya saing. (Zak/Red)












