Kapal Tanker China Tembus Blokade AS di Selat Hormuz, Ketegangan Kawasan Meningkat

  • Bagikan
Kapal tanker China berhasil menembus blokade militer AS di Selat Hormuz. (Foto: Anadolu Agency/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia kembali meningkat setelah sebuah kapal tanker asal China yang masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dilaporkan berhasil menembus blokade militer Washington di Selat Hormuz pada Selasa (14/4/2026).

Berdasarkan data pelayaran dari LSEG, MarineTraffic, dan Kpler, kapal tanker bernama Rich Starry tercatat sebagai armada pertama yang berhasil melintasi jalur strategis perdagangan dunia tersebut sejak blokade laut diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Kapal tanker berukuran medium-range itu membawa sekitar 250.000 barel metanol yang dimuat dari Pelabuhan Hamriyah, Uni Emirat Arab. Kapal tersebut dimiliki oleh Shanghai Xuanrun Shipping Co Ltd yang sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Washington atas dugaan keterlibatan dalam perdagangan dengan Iran.

Aksi kapal yang diawaki warga negara China itu terjadi di tengah pengerahan kekuatan militer besar-besaran oleh Komando Pusat Amerika Serikat di kawasan Teluk. Sehari sebelumnya, dua kapal perusak Angkatan Laut AS, yakni USS Frank E. Petersen dan USS Michael Murphy, dilaporkan telah melintasi Selat Hormuz untuk memperketat pengawasan terhadap lalu lintas kapal.

Baca Juga : Gangguan Selat Hormuz Buka Peluang Ekspor Pupuk Indonesia

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa langkah blokade tersebut merupakan respons terhadap kebijakan Iran yang memberlakukan pungutan terhadap pengiriman barang internasional. Washington menegaskan bahwa operasi militer di kawasan itu bersifat selektif dan ditujukan untuk memantau kapal-kapal yang beroperasi dari dan menuju pelabuhan Iran.

Meski demikian, keberhasilan Rich Starry melintasi selat yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia tersebut dinilai sebagai tantangan terbuka terhadap dominasi militer AS di kawasan. Pada hari yang sama, kapal tanker lain yang juga masuk daftar sanksi AS, yakni Murlikishan, terpantau bergerak menuju Selat Hormuz. Kapal jenis handysize itu dijadwalkan mengambil bahan bakar minyak di Irak pada 16 April mendatang.

Baca Juga  JK Desak Indonesia Bersikap Tegas atas Serangan AS–Israel ke Iran

Situasi keamanan di kawasan Teluk memanas sejak serangan udara besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu Teheran menutup Selat Hormuz, jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera Hindia.

Upaya meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui perundingan gencatan senjata selama dua pekan di Islamabad, Pakistan. Namun, pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan, yang kemudian mendorong Washington menerapkan blokade penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April 2026.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Shanghai Xuanrun Shipping belum memberikan pernyataan resmi terkait keberhasilan kapal mereka menembus blokade tersebut. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan telah mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal perang AS agar segera meninggalkan wilayah Selat Hormuz.

Baca Juga : AS–Iran Memanas, Trump Klaim Kontrol Bersama Selat Hormuz dan Isyaratkan Perubahan Rezim

Di tengah meningkatnya ketegangan, kekuatan militer Amerika Serikat juga dilaporkan berada dalam posisi siaga tinggi. Kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa sekitar 2.500 marinir AS disebut berada dalam jarak 500 hingga 700 kilometer dari pantai Iran, menandai potensi eskalasi konflik yang masih membayangi kawasan tersebut.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *