Nusawarta.id, Jakarta – Hubungan politik Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai berpotensi mengalami perubahan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Perbedaan kepentingan politik dan arah dukungan dalam kontestasi mendatang disebut dapat menjadi pemicu renggangnya hubungan keduanya.
Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai perbedaan jalan politik antara Prabowo dan Jokowi merupakan hal yang wajar. Menurutnya, masing-masing memiliki kepentingan dan strategi politik yang berbeda.
“Saya kira hubungan antara Prabowo dengan Jokowi secara personal tetap baik, tapi mungkin dalam haluan politik dan jalan politik berbeda. Itu saya kira sesuatu yang wajar atau lumrah karena masing-masing punya jalan politik sendiri,” kata Lili di Jakarta, Rabu (11/9/2026).
Lili menilai Prabowo justru dapat menghadapi risiko politik apabila terlalu mengikuti arah politik Jokowi. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan persepsi bahwa Prabowo masih berada di bawah bayang-bayang dan pengaruh mantan presiden tersebut.
“Sebab jika Prabowo mengikuti jalan politik Jokowi, bisa merugikannya karena akan dianggap masih dalam bayang-bayang dan pengaruh Jokowi,” ujarnya.
Baca Juga : Trump Janji Bagikan US$5.000 Jika Republik Menang Pemilu Sela AS
Di sisi lain, Lili menyebut Jokowi juga memiliki kepentingan politik yang ingin diperjuangkan, terutama berkaitan dengan keberlanjutan karier politik keluarganya.
“Begitu juga, jika Jokowi mengikuti jalan politik Prabowo, dia akan tenggelam sementara dia masih punya ambisi politik untuk anak-anaknya,” ucap Lili.
Menurut Lili, perbedaan kepentingan tersebut dapat membuat hubungan politik Prabowo dan Jokowi tidak lagi seerat sebelumnya. Salah satu indikasinya adalah intensitas pertemuan dan komunikasi keduanya yang dinilai semakin jarang.
“Akibat jalan politik yang berbeda tersebut, tidak heran bila mereka kemudian jarang bertemu dan jarang berkomunikasi. Puncaknya nanti menjelang Pilpres,” tuturnya.
Lili juga melihat potensi persaingan politik semakin terbuka apabila kepentingan Jokowi terkait posisi Gibran Rakabuming Raka tidak terakomodasi.
Salah satunya, kata dia, berkaitan dengan keinginan agar Gibran tetap menjadi calon wakil presiden yang mendampingi Prabowo pada kontestasi Pilpres mendatang.
“Jika keinginan Jokowi agar tetap Gibran sebagai cawapresnya Prabowo tidak diakomodir, bisa jadi nanti keduanya akan bersaing dalam politik Pilpres,” jelasnya.
Baca Juga : Saidiman Nilai Pernyataan AHY Tegaskan Komitmen Demokrasi
Dengan demikian, hubungan personal yang masih baik tidak serta-merta membuat Prabowo dan Jokowi berada dalam satu barisan politik. Perbedaan kepentingan menjelang Pilpres 2029 berpotensi membuka ruang persaingan politik di antara keduanya.
Isu mengenai kerenggangan hubungan politik Prabowo dan Jokowi sebelumnya juga telah berembus dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu faktor yang disebut-sebut menjadi pemicunya adalah langkah Prabowo yang dinilai mulai membangun pemerintahan dengan tidak lagi terlalu bergantung pada lingkaran politik Jokowi.
Sejumlah figur yang selama ini dikaitkan dengan lingkaran Jokowi juga mengalami perubahan posisi di pemerintahan. Salah satunya Budi Arie Setiadi yang sebelumnya menjabat Menteri Koperasi.
Perubahan tersebut kemudian memunculkan spekulasi mengenai semakin kuatnya upaya Prabowo membangun konfigurasi politiknya sendiri menjelang pertarungan politik 2029.













Respon (1)