Kemenperin Perkuat Peran IKM dalam Hilirisasi Buah Tropis untuk Dongkrak Ekspor

  • Bagikan
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan peran industri kecil dan menengah (IKM) dalam program hilirisasi industri nasional, khususnya pada sektor pengolahan buah tropis khas Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas domestik sekaligus memperkuat daya saing produk pangan olahan nasional di pasar global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri pengolahan buah tropis karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah dan beragam.

“Indonesia memiliki banyak sekali jenis buah khas negara tropis yang punya nilai jual tinggi di pasar dalam dan luar negeri. Ini saatnya lebih banyak pelaku industri, khususnya IKM di berbagai sentra penghasil buah, untuk mengambil peran dalam mengolah buah unggulan menjadi produk pangan yang lebih beragam, bernilai tambah, dan disukai pasar,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Menurut dia, berbagai komoditas unggulan seperti pisang, durian, jeruk, mangga, nanas, dan manggis memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan modern yang mampu bersaing di pasar internasional.

Agus menegaskan hilirisasi industri buah tropis tidak hanya bertujuan meningkatkan ekspor, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi petani dan pelaku usaha pengolahan pangan di dalam negeri.

Baca Juga : KKP dan Barantin Perkuat Sinergi Pengawasan Mutu untuk Genjot Ekspor Perikanan

“Sudah saatnya kita tidak hanya mengekspor buah segar, tetapi juga menikmati nilai tambah dari produk olahan buah tropis khas Indonesia. Pengembangan industri pengolahan buah akan memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi petani maupun pelaku industri pengolahan pangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan hilirisasi industri buah tropis sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.

Baca Juga  Genjot Hilirisasi, Menteri ESDM Bahlil Bakal Perkuat Kolaborasi dengan India

Berdasarkan Buku Statistik Hortikultura 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik, produksi pisang nasional pada 2024 mencapai 9,26 juta ton. Provinsi penghasil terbesar antara lain Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Barat.

Nilai ekspor pisang segar Indonesia pada 2024 tercatat sebesar 10,52 juta dolar AS atau meningkat 10,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 9,5 juta dolar AS. Volume ekspor juga naik dari 24,8 ribu ton pada 2023 menjadi 26,24 ribu ton pada 2024 dengan tujuan utama ekspor ke Malaysia, Jepang, dan Singapura.

Sementara itu, produksi mangga nasional mencapai 3,3 juta ton pada 2024. Nilai ekspor mangga segar dan olahan tercatat sebesar 1,75 juta dolar AS dengan pasar utama meliputi Singapura, Uni Emirat Arab, dan Malaysia.

Untuk komoditas nanas, produksi nasional mencapai 2,74 juta ton dengan nilai ekspor buah nanas segar dan olahan sebesar 316,1 juta dolar AS. Produk nanas Indonesia banyak diekspor ke Amerika Serikat, China, dan Belanda.

Baca Juga : Menkeu Tunggu Proses Hukum Terkait Nama Dirjen Bea Cukai di Dakwaan Kasus Blueray Cargo

Dalam rangka memperkuat peran IKM pangan pada program hilirisasi industri, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) terus menjalankan program pembinaan dan pendampingan bagi pelaku IKM olahan pangan berbasis buah tropis.

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita mengatakan industri olahan buah memiliki prospek yang menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan sehat dan berkembangnya tren produk berbasis natural food.

Menurut Reni, IKM pangan selama ini menjadi tulang punggung struktur industri nasional. Dari total 4.445.070 unit usaha industri di Indonesia, sebanyak 4.435.542 unit merupakan IKM dan sekitar 46,63 persen di antaranya bergerak di sektor pangan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *