Nusawarta.id, Satui – Suasana meriah terasa di Desa Al-Kautsar, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 digelar pada Jumat (23/1/2025).
Pawai Katupat Belamak, sebuah tradisi turun-temurun dalam masyarakat Banjar, menjadi daya tarik utama. Puluhan warga mengenakan pakaian adat, membawa ketupat besar sebagai simbol keberkahan dan persatuan. Selain itu, pemotongan nasi tumpeng sebanyak 17 buah melengkapi perayaan, melambangkan usia desa yang terus berkembang.
Tidak hanya sekadar perayaan, HUT Desa Al-Kautsar juga dimeriahkan dengan Al-Kautsar Festival (AlFest) yang berlangsung selama sepekan. Festival ini menjadi ajang bagi pelaku UMKM lokal untuk memperkenalkan produk khas daerah, seperti kain sasirangan, kuliner tradisional, dan kerajinan tangan khas suku Banjar dan Bugis yang bermukim di desa ini.

Keunikan lain dari acara ini adalah Festival Maulid Habsy, yang menghadirkan lantunan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini bukan sekadar seni, tetapi juga warisan budaya yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir di Kalimantan Selatan.
Bupati Tanah Bumbu, Abah HM Zairullah Azhar, yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Wisnu Wardana, mengapresiasi upaya Desa Al-Kautsar dalam menjaga tradisi dan memperkuat nilai-nilai budaya serta sosial di tengah masyarakat.
Perayaan ini juga sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam menjaga kearifan lokal, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penguatan Budaya dan Pariwisata Lokal. Selain itu, upaya pelestarian budaya ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menekankan pentingnya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan budaya daerah.

Wisnu Wardana menegaskan bahwa pengembangan desa harus tetap berlandaskan nilai gotong royong dan kearifan lokal, agar masyarakat tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga tetap mempertahankan identitas dan warisan leluhur mereka.
“Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga, dan Desa Al-Kautsar bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam membangun ekonomi berbasis budaya,” ujar Wisnu.
Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kebersamaan dan memperkenalkan kembali nilai-nilai adat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Al-Kautsar. (San/Red)












