Nusawarta.id, Jakarta – Transformasi energi nasional melalui percepatan adopsi kendaraan listrik dinilai menjadi langkah strategis dalam menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Koordinator Daulat Energy menyoroti bahwa penggunaan kendaraan listrik seperti motor berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) sebagai kendaraan dinas operasional maupun kendaraan perorangan dinas di instansi pemerintah pusat dan daerah kini telah memiliki landasan kebijakan yang kuat.
“Sudah tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2022 yang diterbitkan pada 13 September 2022, sebagai upaya konkret mempercepat transisi energi dan menekan ketergantungan terhadap impor BBM,” kata Koordinator Daulat Energy, Ridwan Hanafi dalam pernyataannya, Senin (6/4/2026).
Baca juga: Transisi Energi Bukan Sekadar Target Angka, Tapi Tanggung Jawab Fiskal dan Visi Nasional
Di satu sisi, sektor transportasi saat ini diketahui menyumbang sekitar 52 persen dari total konsumsi BBM nasional. Sehingga, menurut Ridwan peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan konsumsi energi fosil secara nasional.
“Langkah ini tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga berpotensi menekan beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN. Peralihan konsumsi energi ke listrik juga membuka peluang optimalisasi pemanfaatan sumber energi domestik yang lebih beragam dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara dari sisi teknologi, kendaraan listrik memiliki tingkat efisiensi energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbasis mesin pembakaran dalam (internal combustion engine).
Hal ini memungkinkan penggunaan energi yang lebih optimal, sehingga konsumsi energi secara keseluruhan dapat ditekan meskipun jumlah kendaraan terus meningkat.
Ridwan juga menyebutkan bahwa elektrifikasi sektor transportasi menjadi kunci penting dalam memperkuat stabilitas sistem energi nasional.
“Dengan mengurangi ketergantungan pada energi fosil global, Indonesia dapat mendorong diversifikasi bauran energi, terutama jika didukung oleh pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT),” sebutnya.
Baca juga: Dampak Krisis Timur Tengah dan Urgensi Peningkatan Produksi Migas Nasional
Tantangan dan Solusi Strategis
Meskipun memiliki banyak manfaat, Daulat Energy menilai terdapat beberapa aspek strategis yang perlu diperkuat dalam menjaga ketahanan energi dan menekan konsumsi BBM, antara lain:
- Pemerataan Infrastruktur: Percepatan pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di lokasi strategis seperti bandara, pelabuhan,instansi Pemerintah pusat-pusat ekonomi.
- Kapasitas Listrik: Peningkatan kapasitas dan keandalan sistem kelistrikan nasional untuk menjamin ketersediaan pasokan yang memadai.
- Keterjangkauan Harga: Upaya penurunan harga kendaraan listrik agar dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk di luar Pulau Jawa dan wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
Peralihan konsumsi energi dari BBM ke listrik akan menciptakan sistem energi yang lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, insentif yang tepat, serta sosialisasi yang masif, kendaraan listrik berpotensi menjadi pilar utama dalam mewujudkan kemandirian serta ketahanan energi nasional. (Dyt/red)












