DPR Dukung Rel Banda Aceh–Bandar Lampung, Minta KAI Utamakan Optimalisasi Jalur Eksisting

  • Bagikan
Anggota Komisi VI DPR, Rivqy Abdul Halim.(Foto: pkb.id/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, menyatakan dukungannya terhadap rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) membangun jaringan rel yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Menurutnya, proyek tersebut merupakan visi besar yang berpotensi memperkuat konektivitas antarwilayah, menekan biaya logistik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera.

Meski demikian, Rivqy menegaskan pembangunan rel lintas Sumatera harus dilakukan secara bertahap, berdasarkan kebutuhan riil masyarakat dan dunia usaha, serta tidak mengabaikan berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi sektor transportasi darat di wilayah tersebut.

“Kita mendukung penuh visi Presiden untuk menghadirkan konektivitas rel yang terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Namun pembangunan jangan hanya berorientasi pada panjang jalur yang dibangun, melainkan memastikan jalur yang sudah ada dapat berfungsi optimal, cepat, aman, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata,” ujar Rivqy di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Politikus PKB itu menyoroti masih adanya tantangan pada sejumlah layanan kereta api di Sumatera, terutama terkait efisiensi dan kecepatan perjalanan. Ia menyebut beberapa koridor, seperti Lampung–Palembang dan Palembang–Lubuk Linggau, masih memerlukan peningkatan kapasitas dan kualitas layanan agar mampu berfungsi optimal sebagai tulang punggung mobilitas penumpang maupun distribusi barang.

Baca Juga : Disdukcapil Balangan Evaluasi Layanan Adminduk, Perkenalkan Aplikasi Galuh Sanggam

“Jangan sampai kita berbicara membangun ribuan kilometer rel baru, sementara pada beberapa jalur eksisting kereta masih bergerak relatif lambat dan utilisasinya belum maksimal,” tegasnya.

Selain itu, Rivqy mengingatkan bahwa jaringan perkeretaapian di Sumatera selama ini masih didominasi angkutan barang, khususnya untuk komoditas tambang dan logistik tertentu. Karena itu, perencanaan pembangunan rel lintas Sumatera harus mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan angkutan barang dan pelayanan penumpang.

Baca Juga  Menhan Sjafrie Ingatkan Prajurit TNI untuk Selalu Hadir dan Membantu Rakyat

Menurutnya, kehadiran jaringan kereta api yang terintegrasi harus mampu meningkatkan mobilitas masyarakat, membuka akses ekonomi daerah, mendukung sektor pariwisata, serta menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan baru di berbagai wilayah Sumatera.

Rivqy juga menilai pembangunan rel lintas Sumatera perlu disinergikan dengan infrastruktur lain yang telah dibangun pemerintah. Pengalaman pengembangan Jalan Tol Trans Sumatera, yang dinilai masih menghadapi tantangan dari sisi konektivitas dan utilisasi, menjadi pelajaran penting agar proyek perkeretaapian dirancang secara matang dan terukur.

“Pembangunan rel lintas Sumatera harus didasarkan pada perencanaan yang terintegrasi, proyeksi permintaan yang kuat, serta kemampuan pembiayaan yang terukur agar tidak menjadi proyek besar di atas kertas tetapi minim manfaat di lapangan,” katanya.

Untuk itu, Rivqy mendorong KAI bersama pemerintah menyusun peta jalan yang jelas, dimulai dari optimalisasi jalur eksisting, peningkatan kecepatan perjalanan, pembangunan jalur penghubung yang memiliki urgensi ekonomi tinggi, hingga pengembangan konektivitas penuh Banda Aceh–Bandar Lampung secara bertahap.

“Visi besar harus disambut dengan langkah yang realistis. Keberhasilan rel lintas Sumatera harus diukur dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha, bukan semata-mata dari panjang rel yang berhasil dibangun,” ujarnya.

Baca Juga : Pemerintah Jaga Stabilitas Rupiah untuk Lindungi Daya Beli dan Tekan Biaya Produksi UMKM

Sebelumnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, mengungkapkan rencana pembangunan jaringan rel yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI pada 3 Juni 2026.

Menurut Bobby, pengembangan jaringan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan konektivitas rel yang terintegrasi di Pulau Sumatera. Tahap awal proyek akan difokuskan pada pembangunan jalur Banda Aceh–Besitang sepanjang sekitar 478 kilometer yang dinilai strategis untuk menghubungkan wilayah utara Sumatera.

Baca Juga  Kemendag Salurkan 100 Tenda Darurat untuk Pedagang Pasar Kuala Simpang Terdampak Banjir

Saat ini KAI tengah menyiapkan detail engineering design (DED) sebagai bagian dari tahapan perencanaan proyek. Secara keseluruhan, kebutuhan investasi pembangunan rel lintas Sumatera diperkirakan mencapai 20 hingga 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp448 triliun.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *