Zulhas Wanti-wanti Harga Beras Bisa Tembus Rp20 Ribu, Warga Terancam Beralih ke Gandum

  • Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menghadiri peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Zulhas memperingatkan ketergantungan terhadap impor pangan dapat membuat harga beras menembus Rp20.000 per kilogram dan mendorong masyarakat beralih ke makanan berbahan gandum. (Foto: Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas memperingatkan harga beras di dalam negeri berpotensi menembus Rp20.000 per kilogram. Kondisi tersebut dinilai dapat mengubah pola konsumsi masyarakat dari nasi ke pangan berbahan gandum yang harganya relatif lebih murah.

Zulhas mengatakan, pergeseran konsumsi tersebut justru berisiko membuat Indonesia semakin bergantung pada pangan impor. Pasalnya, gandum merupakan komoditas yang tidak dapat diproduksi secara optimal di dalam negeri.

Hal itu disampaikan Zulhas saat menghadiri peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Zulhas menyoroti peningkatan konsumsi gandum nasional dalam dua dekade terakhir. Ia membandingkan konsumsi gandum ketika pertama kali menjadi anggota DPR pada 2004 yang berada di kisaran 3 juta hingga 4 juta ton dengan kondisi saat ini yang telah mencapai 13 juta ton.

Baca Juga : Warga Mentawai Dipidana Jual Starlink, Menkomdigi Soroti Kebutuhan Akses Internet

“Saya jadi anggota DPR mungkin makan gandum itu 3 sampai 4 juta ton. Sekarang kalau kita makan gandum yang tidak bisa kita tanam itu 13 juta ton,” ujar Zulhas.

Menurutnya, peningkatan konsumsi gandum tidak terlepas dari perbedaan harga dengan beras. Ketika harga beras semakin mahal, sementara produk berbahan gandum lebih terjangkau, masyarakat berpotensi mengubah pilihan makanan demi menekan pengeluaran.

“Kalau kita terus tidak mau tahu juga, nanti harga beras kita bisa sampai Rp16.000, Rp20.000, sementara harga-harga gandum akan murah,” tegasnya.

Zulhas mencontohkan masyarakat yang sebelumnya mengonsumsi nasi dapat beralih ke roti atau makanan berbahan gandum lainnya karena pertimbangan harga.

“Orang akan pindah makannya. Kenapa gandum naik 13 juta? Karena beras kita mahal, gandumnya murah, pindah,” katanya.

Baca Juga  Mentan Jamin Stok Pangan Pengungsi Gempa NTT Aman hingga Setahun

Menurut Zulhas, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan nasional. Pergeseran konsumsi ke komoditas impor dapat membuat ketergantungan Indonesia terhadap pangan dari luar negeri semakin sulit dikurangi.

Baca Juga : Cucun Ajak Santri SMP Habibi Bina Cendikia Berani Bermimpi Jadi Pemimpin Bangsa

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menjaga produksi sekaligus stabilitas harga pangan dalam negeri. Upaya tersebut penting agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan domestik dengan harga yang terjangkau.

Zulhas menegaskan, swasembada pangan bukan semata-mata persoalan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Lebih dari itu, swasembada berkaitan dengan kemandirian suatu negara dalam menentukan masa depan dan menjaga ketahanan nasional.

“Oleh karena itu, kata Pak Prabowo, tidak mungkin negara itu jadi apa-apa tanpa makannya itu merdeka atau swasembada. Jadi ini yang akan menentukan masa depan kita. Pelan tapi pasti,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *