Mentan Amran Beberkan 9 Strategi Percepatan Swasembada Pangan Nasional

  • Bagikan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto: Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan sembilan strategi utama pemerintah untuk mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional. Melalui berbagai langkah transformasi di sektor pertanian, target swasembada yang semula diproyeksikan tercapai dalam empat tahun kini dipercepat menjadi hanya satu tahun.

“Target swasembada pangan nasional yang semula diproyeksikan dalam waktu empat tahun berhasil dipercepat menjadi satu tahun melalui transformasi menyeluruh yang dijalankan Kementerian Pertanian,” kata Amran di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Strategi pertama adalah reformasi kebijakan dan regulasi melalui penyederhanaan ratusan aturan yang selama ini dinilai menghambat sektor pertanian. Pemerintah telah menerbitkan sedikitnya 16 regulasi strategis dalam bentuk Peraturan Presiden dan Instruksi Presiden untuk mempercepat produksi serta distribusi pangan dan memperkuat koordinasi lintas sektor.

Salah satu langkah konkret dalam reformasi regulasi adalah pemangkasan 145 aturan terkait pupuk. Sebelumnya, proses distribusi pupuk memerlukan persetujuan hingga 12 kementerian, 38 gubernur, dan 514 kepala daerah. Melalui kebijakan baru, distribusi pupuk kini dapat dilakukan langsung dari Kementerian Pertanian kepada PT Pupuk Indonesia untuk selanjutnya disalurkan kepada petani secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Strategi kedua adalah reformasi tata kelola pupuk. Pemerintah meningkatkan alokasi pupuk hingga 9,55 juta ton, sekaligus menurunkan harga pupuk sekitar 20 persen. Selain itu, akses petani terhadap pupuk dipermudah melalui penggunaan KTP dalam sistem distribusi.

Langkah ketiga dilakukan melalui realokasi anggaran sebesar Rp3,8 triliun dari belanja non-prioritas ke sektor produktif seperti pembangunan irigasi, penyediaan benih unggul, pompanisasi, serta pengadaan alat dan mesin pertanian. Anggaran tersebut sebelumnya berasal dari efisiensi belanja perjalanan dinas, pengeluaran hotel, hingga rehabilitasi kantor yang dinilai tidak mendesak.

Strategi keempat adalah intensifikasi pertanian melalui penggunaan benih unggul, pemupukan tepat waktu, serta pompanisasi pada sekitar 500 ribu hektare lahan tadah hujan. Program ini ditargetkan mampu meningkatkan indeks pertanaman hingga dua sampai tiga kali tanam dalam setahun.

Baca juga : Mentan Amran: Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa

Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan sekitar 800 ribu hektare lahan rawa. Dengan demikian, total peningkatan luas tanam dari program intensifikasi mencapai sekitar 1,3 juta hektare.

Baca Juga  Polres HSS dan Pemkab Bersinergi Sukseskan Penanaman Jagung Nasional di Desa Madang

Strategi kelima berupa ekstensifikasi pertanian melalui program cetak sawah baru seluas sekitar 200 ribu hektare sebagai tambahan luas baku sawah nasional. Sementara strategi keenam adalah penguatan infrastruktur sumber daya air melalui pembangunan dan revitalisasi 61 bendungan yang berpotensi melayani irigasi hingga 400 ribu hektare lahan pertanian.

Strategi ketujuh menitikberatkan pada modernisasi pertanian melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian, drone, serta teknologi pertanian presisi. Menurut Amran, penggunaan teknologi tersebut mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil produksi hingga dua kali lipat.

Adapun strategi kedelapan adalah reformasi kelembagaan dan tata kelola internal. Kementerian Pertanian melakukan evaluasi dan rotasi terhadap 248 pejabat serta mencabut ribuan izin distribusi pupuk guna memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran.

Strategi terakhir adalah intervensi pasar melalui penguatan peran Perum Bulog dalam menyerap gabah petani. Pemerintah menetapkan skema pembelian gabah dengan sistem any quality seharga Rp6.500 per kilogram guna menjaga stabilitas harga sekaligus memberikan kepastian usaha bagi petani.

Amran menegaskan berbagai strategi tersebut telah menunjukkan hasil nyata. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen, melampaui kebutuhan domestik yang berkisar 2,5 hingga 2,6 juta ton per bulan.

Data tersebut, lanjutnya, sejalan dengan catatan Badan Pusat Statistik, Food and Agriculture Organization, serta United States Department of Agriculture.

Baca Juga : Stok Beras Nasional Nyaris 28 Juta Ton, Mentan Amran Pastikan Pangan Aman hingga 10 Bulan ke Depan

Selain itu, cadangan beras pemerintah hingga pertengahan April 2026 mencapai 4,8 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan rekor sebelumnya yang berada di kisaran 2,6 juta ton.

Baca Juga  Kunjungi Japan Foundation, Rektor Universitas LIA Teruskan Penguatan Kerja Sama Indonesia–Jepang

Di sisi lain, Nilai Tukar Petani tercatat meningkat menjadi 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, sementara pertumbuhan sektor pertanian mencapai 5,74 persen—tertinggi dalam 25 tahun.

Pemerintah juga menegaskan bahwa capaian tersebut diperoleh tanpa impor beras medium, sehingga sepenuhnya ditopang oleh peningkatan produksi dalam negeri.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *