Sorotan Publik pada Candaan Pandji soal Wapres Gibran, Tompi Beri Klarifikasi

  • Bagikan
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kiri) saat beraudiensi dengan artis dan pelaku industri kreatif, Tompi (kanan) hingga Raffi Ahmad di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (5/1/2026). (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Wakil Presiden/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Komika Pandji Pragiwaksono kembali menjadi sorotan publik setelah menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka dalam materi stand-up comedy spesialnya. Candaan tersebut muncul dalam pertunjukan yang tayang di platform streaming berjudul “Mens Rea”, di mana Pandji menyebut Wapres Gibran terlihat seperti orang mengantuk.

Respons terhadap materi tersebut datang dari musisi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi, yang dikenal sebagai pendukung Gibran dalam Pilpres 2024. Meski memiliki kedekatan dengan Gibran, Tompi menegaskan dirinya tidak memiliki urusan pribadi atau konflik dengan Pandji.

“Saya klarifikasi dulu bahwa saya dan Pandji itu berteman. Walaupun dalam beberapa kali urusan politik kita tidak selalu satu ‘track’, tapi kita temenan. Saya baik-baik saja sama dia, dan enggak punya personal issue, tidak ada urusan pribadi,” kata Tompi saat ditemui di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (5/1/2026).

Tompi juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah bekerja dan berdiskusi bersama Pandji, termasuk membahas topik politik. Ia menambahkan, setelah menyaksikan pertunjukan berdurasi lebih dari dua jam itu, secara umum ia sepakat dengan pesan yang disampaikan Pandji tentang kondisi politik di Indonesia.

Baca Juga : Ketidakhadiran Tertinggi di MK, Pamannya Gibran Dapat Surat Peringatan MKMK

“Hampir semuanya, secara umum saya setuju dengan kontennya. Seratus persen benar. Saya setuju dengan kontennya. Kegelisahannya itu adalah kegelisahan kita semua. Dan dia berhasil menyampaikan pesan itu dengan baik. Saya cuma menyayangkan satu hal saja,” ujar Tompi.

Meski mengapresiasi sebagian besar materi, Tompi menekankan bahwa kritik terhadap tokoh publik seharusnya menyoroti kinerja atau kebijakan, bukan penampilan fisik. Menurutnya, candaan Pandji yang menyasar kondisi mata mengantuk Wapres Gibran tidak relevan secara substansi.

Baca Juga  Eskalasi Timur Tengah Memanas, Pemerintah Imbau Jemaah Umrah Tunda Keberangkatan

Sebagai dokter bedah plastik, Tompi menjelaskan bahwa kondisi mata Gibran merupakan hal anatomis bawaan lahir yang disebut ptosis. Orang dengan ptosis memiliki kelopak mata yang turun, sehingga penglihatan tidak maksimal.

“Ptosis itu otot levator (kelopak mata) kepanjangan turun ke bawah, jadi mata dia tertutup, bukaan matanya tidak maksimal. Pada orang dewasa yang kasus seperti Pak Gibran, kondisi ptosisnya tidak terlalu berat,” jelas Tompi.

Pernyataan Tompi kemudian menjadi viral di media sosial, terutama setelah ia mengunggah opini pribadinya tentang pertunjukan Mens Rea di akun Instagram @dr_tompi. Dalam unggahannya, Tompi menekankan bahwa menertawakan kondisi fisik orang lain, apapun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas.

“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” tulisnya.

Baca Juga : Gibran Tinjau Kawasan Peribadatan IKN, Tegaskan Komitmen Toleransi dan Kebhinekaan

Respons terhadap kritik Tompi juga datang langsung dari Pandji. Sang komika tidak menunjukkan keberatan terhadap masukan tersebut, justru menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pendapat yang diberikan.

Dengan pernyataan Tompi, publik diingatkan kembali bahwa meski humor dan satire memiliki ruang, ada batas etika dalam menyinggung aspek pribadi seseorang, terutama kondisi fisik yang tidak dapat diubah. Kasus ini menjadi contoh bagaimana interaksi antara dunia hiburan, politik, dan opini publik kerap menimbulkan perdebatan luas di media sosial.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *