Nusawarta.id, Jakarta – Komnas Perempuan mengungkap bahwa guru perempuan masih menghadapi risiko tinggi diskriminasi gender dan kekerasan di tempat kerja.
Anggota Komnas Perempuan, Devi Rahayu, menyampaikan hal ini bertepatan dengan peringatan Hari Guru Sedunia, Selasa (7/10), di Jakarta.
Ia memaparkan hasil laporan Komnas Perempuan 2024 yang menyatakan guru perempuan di dunia pendidikan menghadapi risiko tinggi kekerasan dan diskriminasi.
Baca Juga : Menkomdigi: Literasi Digital dan Budaya Harus Sejalan Bangun Karakter Anak
“Upaya memperjuangkan kesejahteraan guru tidak bisa dipisahkan dari perjuangan melawan kekerasan berbasis gender di dunia pendidikan,” ujarnya.
Devi juga menyoroti kondisi ekonomi banyak guru perempuan yang masih berstatus honorer. Mereka menerima gaji yang bahkan lebih rendah dari upah harian buruh kasar.
“Ironisnya, banyak guru digaji jauh di bawah kebutuhan hidup layak,” katanya.
Situasi ini menandakan minimnya perhatian negara terhadap nasib guru, padahal hukum sudah menjamin hak mereka untuk hidup layak.
Baca Juga : Gojek Perluas Beasiswa Kuliah Gratis Anak Mitra Driver Hingga Jenjang S1
Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemenristekdikti), pada semester I tahun ajaran 2024/2025 terdapat sekitar 3,19 juta guru di Indonesia. Dari jumlah itu, 72 persen atau sekitar 2,18 juta adalah perempuan.
“Angka ini menunjukkan betapa besar peran guru perempuan dalam dunia pendidikan, tapi juga memperlihatkan ketimpangan gender yang masih terjadi,” ujar Devi.
Ia juga menambahkan bahwa guru perempuan kerap menghadapi beban ganda, yakni menjalankan tugas profesional di sekolah sekaligus tanggung jawab domestik di rumah. Sering kali, tugas di rumah tidak dipandang sebagai bentuk kerja yang produktif.
Komnas Perempuan mengajak pemerintah meningkatkan perhatian terhadap perlindungan dan kesejahteraan guru perempuan untuk menciptakan ruang belajar yang aman bagi semua.












