Anggota DPR RI Apresiasi Program MBG untuk Ibu dan Balita

  • Bagikan
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher di Kompleks Gedung DPR, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2025).(Foto: Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengapresiasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) yang mulai dijalankan di sejumlah daerah. Program tersebut dinilai sebagai langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak sejak dini, sekaligus upaya konkret mencegah masalah gizi kronis.

Menurut Netty, penyaluran MBG kepada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan bentuk intervensi yang tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi pada fase 1.000 hari pertama kehidupan memiliki peran sangat menentukan terhadap kualitas kesehatan, kecerdasan, dan tumbuh kembang anak di masa depan.

“Penyaluran MBG kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita adalah intervensi yang sangat strategis. Pemenuhan gizi pada fase 1.000 hari pertama kehidupan sangat menentukan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak ke depan,” ujar Netty dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (1/1/2026).

Netty juga menilai pendekatan pelaksanaan program yang melibatkan posyandu, kader kesehatan, serta Tim Pendamping Keluarga (TPK) sudah berada di jalur yang tepat. Menurutnya, unsur-unsur tersebut memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat serta telah membangun kepercayaan di tingkat desa dan kelurahan, sehingga distribusi bantuan dapat berjalan lebih efektif.

Baca Juga : Warga Lumajang Rasakan Dampak Ganda Program MBG

Selain itu, ia mengapresiasi adanya mekanisme pengantaran langsung ke rumah bagi penerima manfaat yang memiliki keterbatasan mobilitas. Skema ini dinilai mampu memastikan kelompok rentan tetap mendapatkan haknya tanpa terkendala akses atau kondisi fisik.

“Peran kader dan bidan di lapangan sangat krusial. Mereka menjadi ujung tombak keberhasilan program ini, sekaligus memastikan bantuan benar-benar sampai kepada sasaran,” kata Netty.

Baca Juga  Kemenkop Bentuk Command Center untuk Monitoring Koperasi Secara Real-Time

Dari sisi kualitas, Netty menekankan pentingnya perhatian serius terhadap mutu gizi menu yang disajikan dalam Program MBG. Ia mengingatkan agar penyusunan menu benar-benar berorientasi pada kebutuhan kesehatan ibu dan balita, bukan sekadar aspek kepraktisan.

Netty menyambut baik masukan para ahli gizi masyarakat yang mendorong agar menu MBG menghindari makanan ultra-processed food (UPF) seperti burger, spageti, dan makanan sejenis. Menurutnya, saran tersebut perlu dijadikan bahan evaluasi dan penyempurnaan program ke depan.

“Masukan dari para ahli tentu penting untuk menjadi bahan penyempurnaan. Prinsip dasarnya, MBG harus menghadirkan makanan segar, bergizi seimbang, dan sesuai kebutuhan kelompok sasaran,” jelasnya.

Lebih lanjut, Netty menilai pendekatan menu berbasis pangan lokal sejalan dengan upaya peningkatan kualitas gizi sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia menyoroti potensi sumber protein lokal seperti ikan, telur, serta berbagai bahan pangan daerah yang dinilai kaya nutrisi dan relatif mudah diakses.

Baca Juga : Warung Makan Kesulitan Bahan Baku Akibat Program MBG

“Pangan lokal kita sangat kaya dan bernilai gizi tinggi. Jika dimanfaatkan secara optimal, selain lebih sehat, juga akan menggerakkan ekonomi lokal dan memudahkan pengawasan mutu,” pungkas Netty.

Ia berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat terus dievaluasi dan diperbaiki agar manfaatnya semakin optimal, khususnya dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *