Nusawarta.id, Jakarta – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto mendorong kepala lembaga pemasyarakatan (kalapas) di seluruh Indonesia untuk aktif menjalin jejaring dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung pengembangan potensi ekonomi warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Menurut Agus, fungsi lapas saat ini tidak hanya terbatas pada pembinaan, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi pusat pelatihan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi. Ia berharap produk karya warga binaan bisa memiliki nilai jual tinggi dan mampu bersaing di pasar.
“Sebagai kalapas, dituntut untuk aktif membangun jejaring dan menjalin komunikasi konstruktif dengan berbagai pihak di luar. Tujuannya agar hasil karya warga binaan bisa bernilai ekonomis dan berdaya saing,” ujar Agus dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (17/7).
Baca Juga Mendagri Dukung Pendataan PBI JKN dalam Rangka Integrasi DTSEN
Agus juga menilai pembinaan berbasis produktivitas di lapas mampu menyerap banyak tenaga kerja dari kalangan warga binaan. Selain berdampak positif terhadap pembinaan, ia menilai kegiatan tersebut bisa menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Pernyataan tersebut disampaikan Agus saat melakukan kunjungan kerja ke Lapas Kelas IIA Garut, Jawa Barat, Rabu (16/7). Dalam kesempatan itu, Agus meninjau sejumlah produk unggulan hasil karya warga binaan.
Salah satu program andalan Lapas Garut adalah pengolahan sabut kelapa menjadi coir shade yang ditujukan untuk pasar ekspor. Program ini mampu menyerap hingga 200 warga binaan, tergantung pada kapasitas produksi.
Selain pengolahan sabut kelapa, warga binaan juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan produktif lainnya, seperti peternakan domba dan ayam, budidaya ikan lele, konveksi, pembibitan lalat maggot, hingga pertanian di lahan tidur.
Agus memberikan apresiasi kepada Kalapas Kelas IIA Garut Rusdedy atas keberhasilannya menggali potensi lokal dan menjadikannya sebagai peluang produktif di lingkungan lapas.
“Kalapas harus paham potensi daerah yang dipimpinnya. Di Garut, Pak Rusdedy bergabung dengan beberapa komunitas lokal. Dari situ muncul berbagai inisiatif produktif, seperti pengolahan sabut kelapa. Ini bukti bahwa lapas bisa berkembang jika peka terhadap lingkungan sekitar,” pungkasnya. (Ki/Red).












