Nusawarta.id, Jakarta – Sejumlah warung makan skala kecil di Jakarta Pusat mengalami kelangkaan bahan baku seiring dengan program “Makan Bergizi Gratis” (MBG) yang mulai berjalan.
Mukhlis, pemilik warung makan di kawasan Jakarta pusat mengatakan bahwa dirinya kesulitan mendapatkan sejumlah bahan baku makanan, seperti ikan kembung, sementara sejumlah bahan baku yang lain harganya melonjak.
“Sejak sebulan terakhir saya ga jual Ikan kembung karna sudah tidak ada di pasar, kalau pun ada harga mahal. Dulu lima ribu, sekarang sudah naik sepuluh ribu per ekor, ini karna bahan baku tersedot program MBG,” ujarnya kepada Nusawarta.id, Rabu (11/12).
Baca Juga : Kebutuhan Pangan Bergizi Jadi Fokus Program MBG, Pemerintah Bangun Ribuan Tambak Ikan
Sementara sejumlah komoditas bahan baku lain seperti cape, telor dan ayam potong cukup tersedia di pasaran, tetapi harganya naik.
“Cabe sekarang harganya 100ribu/Kg”, Telor 33ribu/kg, Ayam potong di atas 50ribu/Kg. Katanya
Meskipun harga bahan baku tinggi, Mukhlis mengatakan tetap berjualan tanpa mengurangi harga jual makanannya maupun mengurangi porsi, Alasannya masyarakat lapis bawah daya belinya sedang tertekan. Mukhlis juga khawatir kalo ia menaikkan harga jualnya, konsumen akan berpindah.
“Saya denger obrolan mereka, pendapatan mereka ga naik-naik, orderan sepi, makanya ga saya naikan” ujar Mukhlis.
Pemilik warung Mukhlis biasanya melayani para pekerja informal, seperti ojol, pekerja bangunan dan kurir paket. Selain itu ada juga para karyawan kantor di sekitar warungnya.
Masyarakat lapis bawah memang mengalami tekanan, sementara pemerintah mengalokasikan anggaran jumbo untuk program MBG yang sasaran untuk anak-anak sekolah. Anggaran MBG tahun 2025 di alokasikan sebesar 121 Triliun, dan untuk tahun 2026 jauh lebih besar meningkat menjadi Rp335 triliun.
Baca Juga : Ketua KPK Temukan Adanya Pengurangan Harga MBG, Dari Rp. 10.000 jadi Rp. 8.000
MBG mestinya menjadi peluang yang menguntungkan bagi para pengusaha kecil yang bergerak di usaha warung. Ironisnya justru mereka kini mengalami kelangkaan bahan baku, margin makin tipis bahkan dihantui kekhawatiran usahanya akan bangkrut.












