Nusawarta.id, Jakarta – Pola komunikasi politik Ketua Umum Projo sekaligus mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Budi Arie Setiadi, kembali menjadi sorotan. Di tengah namanya yang masih disebut dalam perkara dugaan mafia akses judi online (judol) di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Budi Arie justru dinilai lebih sering melontarkan pernyataan politik yang memicu kegaduhan publik.
Pakar komunikasi politik Adib Miftahul mempertanyakan motif di balik sejumlah pernyataan politik Budi Arie yang belakangan mencuri perhatian. Menurut dia, tidak menutup kemungkinan manuver komunikasi tersebut digunakan untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan hukum yang tengah menjadi sorotan.
“Jangan-jangan apakah itu penutupan dia dari keterlibatan dia, dugaan keterlibatan dia dalam kasus judi online. Nah, itu kan jadi pertanyaan akhirnya,” kata Adib, Jumat (4/9/2026).
Adib menyoroti pernyataan Budi Arie terkait dinamika suksesi kepemimpinan hingga munculnya spekulasi bahwa Pemilu dapat berlangsung lebih cepat dari 2029. Pernyataan tersebut kemudian berkembang menjadi beragam tafsir di ruang publik, mulai dari dugaan keretakan elite di lingkaran kekuasaan hingga isu gerakan makar.
Baca Juga : Kejagung Periksa Perantara Penjual Ompreng dalam Dugaan Korupsi Program MBG
Wacana tersebut bahkan mendapat tanggapan dari mantan Menko Polhukam Mahfud MD. Pada 2 September 2026, Mahfud meminta perhatian publik dan aparat penegak hukum lebih diarahkan pada perkara judi online yang menyeret nama Budi Arie dalam berkas dakwaan jaksa.
Menurut Adib, pernyataan politik yang dilempar Budi Arie justru berpotensi memperkeruh situasi. Alih-alih memberikan penjelasan menyeluruh terkait persoalan yang menyangkut dirinya, Budi Arie dinilai memilih mengeluarkan pernyataan yang kemudian memunculkan spekulasi baru.
“Pernyataan Budi Arie itu memang seperti bom. Tafsir-tafsir seperti keretakan antarelite di kekuasaan Prabowo, suksesi pemerintahan, tindakan makar, ini kan akhirnya berkembang liar,” ujar Adib.
Nama Budi Arie sebelumnya mencuat dalam surat dakwaan perkara dugaan mafia akses judi online di lingkungan Kementerian Komdigi. Dalam persidangan pada Mei 2025, jaksa mengungkap adanya pembagian uang terkait pengamanan ribuan situs judi online yang turut mencantumkan nama Budi Arie.
Namun, penyebutan nama seseorang dalam surat dakwaan tidak serta-merta menjadikannya tersangka. Meski demikian, Adib menilai posisi Budi Arie sebagai mantan pejabat publik membuatnya memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat.
“Ketika dia disangkut-sangkutkan, ya memang harus dijelaskan kepada publik. Komunikasi publik itu harus jalan. Karena dia dulu adalah pejabat publik,” tegasnya.
Adib mengatakan, masyarakat saat ini dapat dengan mudah mengikuti fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan. Karena itu, bantahan tanpa penjelasan yang komprehensif dinilai belum cukup untuk menghapus persepsi negatif yang telanjur berkembang.
Terlebih, perkara tersebut menyeret sejumlah orang yang disebut memiliki kedekatan dengan lingkungan kementerian yang pernah dipimpin Budi Arie.
“Ketika citra menurut saya lebih banyak negatifnya, publik itu sudah melihat ini ada kegiatan yang menyimpang, terstruktur, sistematis, melibatkan orang-orang dekat dia, masa dia tidak tahu? Kan pertanyaannya begitu,” katanya.
Adib menyarankan Budi Arie tidak terus memproduksi isu politik baru yang berpotensi membingungkan masyarakat. Sebaliknya, dia didorong mengambil langkah terbuka dengan menjawab setiap tudingan yang mengaitkan dirinya dengan perkara judi online.
Sebagai Ketua Umum Projo dan salah satu elite politik yang memiliki jejaring luas di lingkaran kekuasaan, setiap pernyataan Budi Arie dinilai memiliki konsekuensi politik yang besar. Karena itu, strategi komunikasi yang mengedepankan isu-isu kontroversial justru berpotensi memperlebar ruang spekulasi.
“Fakta-fakta persidangan itu apa yang disampaikan dalam persidangan dalam perspektif hukum saya kira akan berbicara beda. Tanggapi saja setiap ada isu yang mengaitkan dirinya. Itu menjadi lebih clear, menjadi lebih kesatria,” pungkas Adib.












