Nusawarta.id, Jakarta – Organisasi pangan dunia, Food and Agriculture Organization (FAO), melaporkan kenaikan harga pangan global pada Maret 2026. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya biaya energi di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasar komoditas dunia.
Dalam laporan terbarunya, FAO menyebutkan bahwa indeks harga pangan global naik 2,4 persen dibandingkan Februari 2026. Kenaikan ini menjadi peningkatan kedua secara berturut-turut dalam dua bulan terakhir, menandakan tekanan harga yang mulai kembali terasa di pasar pangan internasional.
Kenaikan harga tercatat terjadi di hampir seluruh kelompok komoditas utama, mulai dari sereal, daging, produk susu, minyak nabati hingga gula. Secara tahunan, indeks harga pangan juga mengalami kenaikan tipis sebesar 1,2 poin atau sekitar satu persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Untuk komoditas sereal, indeks harga tercatat meningkat 1,5 persen secara bulanan hingga mencapai 110,4 poin. Jika dibandingkan dengan Maret tahun sebelumnya, kenaikan harga sereal berada di kisaran 0,6 persen.
Baca Juga : Geopolitik Global Tekan Energi Nasional, DPR Ajak Masyarakat Hemat Energi
Sementara itu, lonjakan paling signifikan terjadi pada kelompok minyak nabati. FAO mencatat indeks harga minyak nabati mencapai rata-rata 183,1 poin atau naik 5,1 persen dibandingkan Februari. Kenaikan tersebut sekaligus menjadi tren peningkatan bulanan ketiga secara berturut-turut, dengan lonjakan tahunan mencapai 13,2 persen.
FAO menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak nabati tidak terlepas dari meningkatnya harga energi global, terutama minyak mentah. Kondisi ini turut memengaruhi harga komoditas turunan seperti minyak sawit dan minyak kedelai di pasar internasional.
“Harga minyak sawit internasional mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 dan bergerak ke level premium di atas harga minyak kedelai. Ini utamanya mencerminkan efek limpahan dari lonjakan tajam harga minyak mentah,” ujar FAO dalam laporannya.
Kenaikan harga juga tercatat pada komoditas daging dan produk susu. Indeks harga daging meningkat sekitar satu persen dibandingkan bulan sebelumnya dan melonjak lebih dari delapan persen secara tahunan.
Adapun indeks harga produk susu naik 1,2 persen secara bulanan menjadi 120,9 poin. Meski demikian, secara tahunan harga produk susu masih tercatat lebih rendah 18,7 persen dibandingkan Maret 2025.
FAO menilai, lonjakan harga komoditas pangan ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya harga energi global. Kondisi tersebut mendorong perubahan strategi produksi di sejumlah negara eksportir utama.
Selain itu, kekhawatiran terhadap dampak eskalasi konflik di Timur Tengah juga memberi tekanan tambahan terhadap perdagangan komoditas tertentu, termasuk gula.
Baca Juga : Sampah Jadi Sumber Listrik, Pemerintah Percepat Proyek PSEL di 61 Daerah
“Tekanan tambahan pada harga gula juga berasal dari kekhawatiran atas dampak eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap arus perdagangan gula,” tulis FAO.
Faktor energi juga memengaruhi keputusan produsen di sejumlah negara, seperti Brasil. Negara tersebut diperkirakan akan mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol dibandingkan gula, seiring meningkatnya nilai ekonomi bahan bakar nabati di tengah tingginya harga energi global.
Kondisi ini dinilai dapat memperketat pasokan gula dunia dan berpotensi mendorong harga komoditas tersebut tetap berada pada tren tinggi dalam beberapa waktu ke depan.












