BGN Minta Maaf atas Insiden Keamanan Pangan Program MBG di Jakarta Timur, Operasional Dapur Dihentikan

  • Bagikan
Petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pontianak Selatan memasukkan tray makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadhan ke dalam mobil saat penjemputan di SMAN 10 Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (23/2/2026). (Foto: Antara/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan permohonan maaf atas insiden keamanan pangan yang terjadi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2, Duren Sawit, Jakarta Timur. Lembaga tersebut juga memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan bagi korban terdampak.

Permohonan maaf itu disampaikan Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, di Jakarta, Sabtu (4/4). Ia menegaskan bahwa pihaknya bertanggung jawab penuh terhadap penanganan para korban yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit,” ujar Nanik.

Sebagai langkah penanganan awal, BGN langsung menghentikan operasional dapur SPPG Pondok Kelapa 2. Penghentian ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus upaya pengamanan untuk mencegah potensi kejadian serupa.

Menurut Nanik, dapur tersebut akan disuspensi untuk waktu yang belum ditentukan. Hal ini karena sejumlah fasilitas di dapur, termasuk tata letak dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dinilai belum memenuhi standar operasional yang ditetapkan.

Baca Juga : BGN Hentikan Sementara Delapan Dapur SPPG di Tulungagung karena Tidak Penuhi SOP

“SPPG Pondok Kelapa kami suspend untuk waktu yang tidak terbatas karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan IPAL, masih belum memenuhi standar,” tegasnya.

Insiden tersebut bermula pada Jumat (3/4), setelah pihak SPPG menerima laporan dari guru pada Kamis (2/4) sore terkait puluhan siswa yang mengalami gejala gangguan kesehatan usai menyantap makanan dari program MBG. Gejala yang dilaporkan antara lain sakit perut, diare, serta mual.

Berdasarkan laporan awal, sebanyak 36 siswa pertama kali dilaporkan mengalami keluhan tersebut. Namun setelah dilakukan pendataan lanjutan, jumlah korban terdampak tercatat mencapai 60 orang.

Baca Juga  Pemprov DKI Gelontorkan Rp253,6 Miliar untuk Program Sekolah Swasta Gratis 2026/2027

Menu yang disajikan pada hari itu terdiri dari spaghetti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, serta buah stroberi. Seluruh korban yang mengalami gejala telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat dan dilaporkan dalam kondisi membaik.

Baca Juga : BGN Tegaskan Sanksi Keras untuk Mitra Nakal Jelang Operasional Program Makan Bergizi Gratis

BGN menduga insiden ini kemungkinan berkaitan dengan kondisi makanan yang tidak lagi segar saat dikonsumsi. Jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan penyajian dinilai berpotensi menurunkan kualitas makanan serta memicu gangguan kesehatan.

Ke depan, BGN memastikan akan memperketat sistem pengawasan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, termasuk pengendalian proses produksi, distribusi, serta penyajian makanan. Langkah ini dilakukan guna menjamin keamanan pangan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *