Ekonom Paramadina: Proyek Whoosh Dipaksakan, Sejak Awal Sudah Bermasalah

  • Bagikan
Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Whoosh. (Foto: KCIC/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau yang kini dikenal dengan nama Whoosh kembali menjadi sorotan publik usai kritik tajam dilontarkan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Kali ini, kritik tersebut mendapat dukungan dari ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, yang menilai proyek tersebut memang sejak awal dipaksakan.

“Whoosh memang terlalu dipaksakan. Ini dijalankan dengan “reverse planning”, artinya diputuskan dulu, dimulai, baru secara paralel dibuat perencanaan. Makanya terjadi banyak masalah,” ujar Wijayanto, Senin (20/10/2025).

Pernyataan Wijayanto ini senada dengan pengakuan mengejutkan dari Luhut yang menyebut proyek KCJB sebagai “barang busuk” sejak awal. Pernyataan itu disampaikan Luhut dalam sebuah diskusi publik bertema satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Baca Juga : Eks Menko Polhukam Mahfud Md Kritik KPK yang Minta Laporan Dugaan Markup Proyek Kereta Cepat Whoosh

“Saya yang sedari awal mengerjakan itu (proyek KCJB), saya nerima sudah busuk itu barang,” tegas Luhut.

Padahal, pada 2021, Presiden Joko Widodo melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2021 menunjuk Luhut sebagai Ketua Komite Proyek KCJB. Saat itu, Luhut juga kerap memuji proyek kereta cepat sebagai simbol kemajuan transportasi Indonesia.

“Pada hari ini kita patut berbahagia dan berbangga hati, karena Indonesia menorehkan tinta sejarah baru dalam dunia perkeretaapian modern,” ujar Luhut saat meresmikan Whoosh di Stasiun Halim, Jakarta, 2 Oktober 2023.

Kini, seiring perubahan sikap, pernyataan Luhut menuai tanggapan luas, termasuk dari mantan pejabat dan akademisi. Wijayanto bahkan menilai proyek sejenis seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Bandara Kertajati juga sebaiknya tidak dijalankan.

Baca Juga : Luhut Binsar Akui Proyek Whoosh Tak Beres Awalnya

“Jika kita boleh kembali ke masa lalu, maka sebaiknya proyek Whoosh tidak dijalankan. Sama dengan IKN dan Kertajati,” ujarnya.

Baca Juga  Diskusi PPPI Paramadina dan INDEF: Warisan Ekonomi Politik Era Jokowi dan Beban Utang Kereta Cepat

Di sisi lain, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, turut menyindir sikap Luhut yang dinilai seperti melepaskan tanggung jawab.

“Mulai buang badan. Hahaha. Ada yang mulai buang badan,” tulis Said lewat akun media sosial X, Minggu (19/10/2025).

Pakar komunikasi politik Hendri Satrio menilai, pernyataan Luhut justru membuka fakta soal buruknya tata kelola proyek strategis nasional di era pemerintahan sebelumnya.

“Pernyataan Luhut justru membuka tabir ‘busuk’ pemerintahan sebelumnya,” ujar Hendri lewat akun pribadinya di platform yang sama.

Sebagai catatan, proyek KCJB menelan biaya hingga US$7,27 miliar dan kini membebani keuangan negara akibat skema pembiayaan yang belum sepenuhnya tertutup. Kritik terhadap proyek ini terus bermunculan, menyusul pertanyaan publik atas urgensi, tata kelola, dan beban utang yang ditimbulkan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *